Showing posts with label Opinion. Show all posts
Showing posts with label Opinion. Show all posts
Mumpung lagi tidak banyak tugas dan hari ini adalah ulang tahun saya ke-26, saya menyempatkan diri untuk menulis pengalaman berharga dalam hidup saya. Tentang bagaimana saya mengambil keputusan untuk resign dari pekerjaan untuk traveling keliling Eropa. Cerita ini sih murni sharing, bukan bermaksud menginspirasi pembaca untuk ikut-ikutan resign juga, hehehe...

Rencana ke Eropa, apapun caranya, sudah saya rencanakan sejak zaman kuliah. Mimpinya sendiri dimulai ketika saya sebagai anak, banyak membaca buku-buku pengetahuan bergambar yang dibelikan orang tua. National Geographic USA adalah favorit saya dari kecil karena Papa berlangganan majalah itu. Walaupun saya nggak bisa membacanya karena belum lancar berbahasa Inggris, saya suka melihat-lihat gambarnya. Lalu karena di rumah ada parabola, saya menonton acara-acara asing setiap hari. Dunia luar begitu terekspos kepada saya. Pernah tinggal di Jayapura, Timika, dan Pontianak membuat wawasan saya tentang traveling semakin terbuka. Belum lagi sejak kecil saya sering diajak orang tua keliling Indonesia, menggunakan berbagai macam transportasi, mulai dari kapal Pelni, pesawat Garuda, pesawat Hercules, kereta api, dan yang paling sering mobil untuk road trip. Oooh, ternyata dunia ini luas!
Contoh foto powerful yang akhirnya menginspirasi saya untuk jalan-jalan
(Image courtesy of Lynsey Addario - National Geographic Magazine)
Geografi adalah mata pelajaran favorit saya. Sewaktu SD, saya hafal nama-nama dan ibukota negara-negara di dunia. Sekarang mah udah lupa. Nggak ada alasan penting sih kenapa suka geografi, suka aja liat peta dunia. Atlas adalah buku yang sering saya buka-buka berkali-kali dan buku yang rusak pertama kali karena seringnya saya pakai. Dan saya suka bermain "mencari kota" menggunakan atlas dengan adik saya. Tentu saja, waktu itu saya penasaran banget sama negara Uni Soviet (waktu itu atlas cetakan lama) yang raksasa dan diberi warna merah oleh penerbit. Negara apaan sih itu? Ada apa di dalamnya?

Rasa penasaran saya semakin ditambah dengan passion saya dengan arsitektur dan seni. Gereja Katedral dan Kawasan Kota Tua adalah bangunan yang saya kagumi karena sejarah dan desainnya. Saya pengen lihat lebih banyak lagi! Di mana lagi pusat arsitektur dan seni dunia selain di Benua Eropa? Saya pun sering meminjam buku-buku seni di perpustakaan sekolah. Saat teman-teman ngedumel setengah mati ketika mendapatkan tugas membuat maket rumah sesuai rancang bangun yang sudah dibuat, dan menatanya menjadi sebuah kota mini, saya melakukannya dengan senang hati. Miniatur rumah yang saya buat lengkap dengan cat warna-warni dan mobil-mobilan. Ketika akan lulus SMA, S1 Arsitektur UI adalah incaran saya karena passion saya yang begitu tinggi pada bidang ini. Eh, gak kesampean. Hiks. Yang penting masih UI deh, hehehe...

Kombinasi penasaran dengan dunia luar dan minat tinggi ke seni dan arsitektur akhirnya mengerucut menjadi sebuah rencana: saya harus bisa ke Eropa sebelum 26 tahun!

Ketika menjadi mahasiswa, saya berpikir keras bagaimana caranya saya ke Eropa. Karena masih mahasiswa miskin, mana mampu saya bayar sendiri ke sana. Akhirnya saya cari yang gratisan. Sempat diterima di International Youth Leadership Conference di Praha, namun tidak jadi berangkat karena nggak dapat sponsor. Sempet apply beasiswa summer course di Italia dan Portugal tapi gak lolos. Nggak putus asa, saya berjanji lulus tepat waktu, dapat kerja, nabung, dan pergi ke Eropa.

Setelah mendapatkan pekerjaan stabil yang pertama, saya langsung buka rekening tabungan yang nggak ada biaya administrasinya. Saya nggak mau hasil nabung susah payah dipotong setiap bulan. Selama 24 bulan, saya konsisten menabung 50% dari gaji, kalau ada uang lebih seperti THR dan bonus tahunan, nabungnya bisa lebih banyak. Susah? Banget. Ini adalah skala prioritas, saya sengaja nggak belanja banyak baju, sepatu, dan lain-lain karena lebih baik uang itu saya simpan.

Ajakan teman-teman untuk liburan ke luar kota juga sengaja saya skip karena prioritas saya adalah menabung. Saya nahan diri dengan mikir, "Uang itu mendingan buat lo makan di Eropa, Put." Yes, I was hard to myself. 

Ketika resign, bos saya mengapresiasi keberanian saya waktu itu. Dia melepas saya dengan kekaguman. Waktu itu saya nggak ada pikiran atau ketakutan apa pun kalau saya akan susah dapet pekerjaan lagi. Gimana enggak, kantor dengan fasilitas oke, bonus tahunan, sudah diangkat jadi karyawan tetap, mau apa lagi? Tapi saya, bos, dan teman-teman saya percaya bahwa life starts outside the comfort zone. Orang tua saya mendukung sepenuhnya, saya nggak pernah dilarang-larang pergi dan nyokap saya percaya sepenuhnya pada saya. The feeling was amazing, I could explore the world with everybody support me.

Dan, tercapailah mimpi saya... Pergi mengeksplor Eropa sebelum 26 tahun, sebelum hari ini...

Why I travel is because I want to travel, to know the unknown, to be further than anyone else, to find the essence of life, to find another home, to prove what people said are wrong, to push myself to the limit, to set my bar much higher than before, and to be me. 

-@travelitarius Peregrinaro, ergo sum. I travel, therefore I am.
Read More
Berhubung saya baru saja diterima menjadi mahasiswa pascasarjana yang menjunjung tinggi nasionalisme dan identitas bangsa *cie*, di hari kemerdekaan ini saya pengen bercerita tentang nasionalisme yang saya bawa ketika di luar negeri. Ada yang bilang, nasionalisme orang Indonesia paling keliatan banget pas pertandingan olahraga, apalagi sepak bola, apalagi kalau lawan Malaysia. Tapi menurut saya, saat jalan-jalan pun, kita pasti ngerasa nasionalisme lebih tinggi dibandingkan ketika di negara sendiri. 

Karena saya banyak mendapatkan teman selama di Eropa karena Couchsurfing, saya jadi punya kesempatan mempromosikan Indonesia ke mereka. Kalau lagi ngomongin Indonesia, pasti ada aja yang lucu dari pendapat orang luar tentang negara kita. Untungnya, orang Eropa itu sangat pintar-pintar, jadi nggak ada tuh pertanyaan, “Where is Indonesia?”: pertanyaan yang akan muncul kalau kita ngobrol dengan orang Amerika (no stereotype, cuma statistically speaking). Tapi mereka pasti akan mengatakan hal yang sama: “Your country is very big!”. Yaiyalah, 17 ribu pulau gitu loh.

Pakaian
Umumnya, Indonesia sering dikaitkan dekat dengan India secara kultural. Misalnya ketika Francois, host saya di Paris menanyakan apa yang kita pakai sehari-hari, apakah kaos dan celana panjang yang sedang saya pakai waktu itu atau kain seperti orang India.
“Ya enggaklah, kain biasanya kami pakai untuk memakai pakaian tradisional, yang seringnya dipakai pada upacara keagamaan, pernikahan, atau kematian. Tapi yaa... beberapa orang tua masih pakai kain sehari-hari sih...” kata saya sambil makan cherry pie buatannya.

Dan juga nggak ada yang nyangka kalau negara kita yang maha luas ini punya beragam pakaian tradisional. Saya membawakan 1 pak kartu pos dari Kementerian Pariwisata yang bergambar pakaian-pakaian tradisional dari beberapa provinsi. Mereka semua antusias melihat-lihat pakaian kita, beberapa bahkan sangat penasaran dengan detail-detail yang dipakai. Lotte meminta saya menjelaskan baju dari Kalimantan Barat, her favorite. Saya pun bingung ngejelasinnya gimana, pokoknya saya jelaskan saja, hiasan dan motif Kalimantan biasanya terinspirasi dari hewan dan tumbuhan. Makannya hiasan kepalanya sering berasal dari bulu burung dan motif pakaian pun keseringannya motif burung atau tanaman. Lain dengan Ewa, teman Polandia saya, dia langsung bertanya saya berasal dari provinsi mana. Lalu saya ambilkan kartu pos Sumatera Barat dan menjelaskan hiasan tanduk kerbau yang dipakai sang model dan makna di balik simbol tanduk itu.
So, you will wear this when you get married?” tanyanya, menempelkan kartu pos tersebut di kulkasnya.
Maybe.” Hahaha, tapi kapan?

Lingkungan
Hal yang lucu adalah ketika saya bertanya “Disini nggak pernah ada nyamuk yah? Enak banget sih!” Sebelum menjawab, biasanya mereka cengar-cengir dulu. “Nggak, nggak ada nyamuk seekor pun, bahkan kalau ke hutan”. Saya juga diketawain Jenny, teman Jerman, karena saya buru-buru nutup jendela karena takut banyak nyamuk. “Disini nggak ada nyamuk!” katanya. Jujur saja, ada 2 hal yang saya kangenin dari tinggal di Eropa: nggak ada nyamuk dan air kerannya bisa diminum.
Saya ditanya-tanya Laura, cewek cantik asal Romania yang menjadi host di Praha, tentang hewa-hewan yang ada di Indonesia.
Do you have elephants?”
Yes.
Whoa. Do you have rhinoceros?”
Yes.”
So nice! Do you have tigers?
Yes.” Saya pengen ketawa sendiri melihat antusiasmenya. Yaelah, gini doang ajah... Lalu saya perlihatkan gambar pembagian garis Weber dan Wallace yang memetakan kekayaan fauna Indonesia. Dia langsung kegirangan.
We only have bears in Romania!” haha, kecian deh loh.

Geografi
Yang paling berkesan ngomongin tentang geografi Indonesia adalah ketika bersama Jarek dan Marta, teman Polandia, karena mereka berdua hikers sejati dan suka melakukan aktivitas geocaching saat senggang.
Do you have volcanoes?” tanya Jarek.
Yes, we have plenty of them!” kata saya antusias. Lalu membuka Google dan memperlihatkan peta ring of fire di mana Indonesia menjadi persimpangannya sehingga mengakibatkan rawan gempa bumi, tsunami, dan gunung meletus. Saya ceritakan tragedi gunung meletus di Merapi, Sinabung, dan Lokon serta gambar-gambarnya. Lalu saya ceritakan kita kehilangan sekitar 100.000 orang di tsunami Aceh.
Move here! You live in a dangerous country!” kata Jarek, ekspresinya lucu.
But, I love my country!” Lalu saya perlihatkan yang bagus-bagusnya seperti pemandangan dari puncak gunung, pantai berpasir putih, dan kekayaan budaya kita.

Makanan
Buah adalah topik utama pembicaraan karena orang Eropa suka makan buah dan sayuran. Di saat saya happy berat pertama kali nyobain plum, peach, raspberry, cherry dan blackberry asli sana, mereka antusias nanya buah tropis. Rambutan, duren, belimbing, buah naga, manggis, markisa adalah buah-buah yang sangat asing buat mereka. Pas mereka bilang juga punya pisang, saya tanya balik.
“Pisang di sini cuma 1 jenis kan? Just BANANA. Kita punya macem-macem, ada yang gede, kecil, bahkan ijo.” Kicep deh mereka, haha.

Karena saya datang, Raul dan Laura membelikan saya nanas untuk dimakan bersama. Karena Laura cuma ngeliat video dari YouTube bagaimana cara mengupas dan memotong nanas yang bukan ala Indonesia, saya lalu ngasi instruksi cara mengupasnya. Capek ngasi tahu, “Sini deh, gue aja yang motong.” Lalu kami mulai ngebahas duren. Buah eksotis yang baunya bikin semua bule nyerah. Saya lihatin video orang-orang Amerika yang nyoba duren untuk pertama kalinya.
“Lah, emang baunya gimana sih?” tanya Raul.
“Susah dijelasin. Banyak yang bilang, perpaduan antara kaos kaki dan WC umum,” jawab saya ketawa geli.
“Dan lo doyan?” tanya Laura.
“Enak lho! Nanti kalo lo ke Indonesia, gue ajak makan duren!”
Sehari-hari makan bareng Lena, host di Berlin, yang seorang vegetarian, saya makan makanan vegetarian yang luar biasa enak. Yang biasanya saya nggak suka makan terong, masakan buatan Lena dari terong jadi enak banget.
“Orang Indonesia sih apa aja dimakan. Kalo makan sapi, mulai dari otak, lidah, kaki, usus, sampai buntutnya kami makan!”
Lalu Lena ngejelasin, sebagai seorang vegetarian, dia sangat mendukung makanan seperti itu karena tidak ada bagian dari sapi yang dibuang. Saya lalu bercerita makanan aneh yang ada di bagian Indonesia seperti anjing, kelelawar, ular, buaya, dan ekspresi jijiknya bener-bener mewakili.

Pariwisata
Ini hal yang nggak bosen-bosennya saya omongin bareng orang luar. Kekayaan potensi pariwisata kita mulai dari pantai, gunung, sungai, hutan tropis, terumbu karang sering saya kasih lihat gambarnya ke teman-teman saya. Dan akhirnya membuat mereka penasaran pengen ke Indonesia. Highlight promosi saya biasanya Pulau Komodo, walaupun saya sendiri belum pernah ke sana. Mereka suka takut pas saya bilang, “Komodo itu serem loh! Dia larinya cepat, liurnya bisa menginfeksi, bisa manjat, dan bisa berenang!” Tapi pas saya lihatin landscape Pulau Rinca di sana, mereka jadi antusias pengen ke sana juga.

Saya bangga menjadi orang Indonesia dengan segala kebaikannya. Cuma paspor dan pemerintahan yang bikin saya senewen jadi warga negara karena mengganggu karir traveling. Biasanya saya suka pesimis dengan Indonesia di masa depan karena pemerintahan kita yang korup. Tapi kalau melihat berita positif di media dan rencana-rencana Ahok dan Jokowi di masa depan untuk Jakarta dan Indonesia, saya percaya kita berada di jalan yang benar. Sekarang, tinggal bagian kita untuk mendukung mereka dan bekerja sesuai keahlian kita masing-masing, untuk Indonesia. Dirgahayu.
Read More
Disclaimer: tulisan ini bukan promosi. Wong saya juga nggak mampu beli, hehehe

Kalau lagi traveling, saya sering membawa peralatan yang membuat perjalanan saya semakin nyaman dan mudah. Misalnya eyeshades, sarung tangan, pulpen, headset, dompet paspor, dll. Biasanya barang-barang itu saya taruh di carry-on atau di kantong-kantong terluar supaya aksesnya mudah. Kadang, karena banyak yang dibawa, saya pun sering kehilangan barang-barang tersebut karena tercecer *padahal mah emang ceroboh*. Makanya saya sering bawa jaket yang kantongnya banyak, tapi pas dipake, jadi gembung-gembung sana-sini. Jelek keliatannya. 

Lagi iseng browsing internet, saya menemukan 1 proyek fundraising dari website Kickstarter, salah satu website crowdfunding yang sudah mengglobal. Dan saya menemukan proyek pakaian yang paling banyak didanai, yaitu Baubax Travel Jackets! Lalu saya ngintip rekening tabungan dan meratapi nasib karena saya nggak bisa beli jaket super keren ini.
Photo courtesy of Baubax
Kenapa Baubax? Padahal kan sudah banyak travel jacket yang punya banyak fitur juga? Menurut pendapat saya, Baubax itu spesial karena fitur yang dia punya tidak hanya kantong yang banyak dan multifungsi seperti jaket lain. Tetapi dia juga punya banyak kantong, kantong tablet, tempat kacamata, retsleting yang juga berfungsi sebagai pulpen, stylus, dan pembuka botol sekaligus, sarung tangan built-in, dan neck pillow-nya yang gampang ditiup dan dikempesin. Makanya banyak yang bilang jaket ini kayak swiss army knife versi jaket! 

Selain itu, jaket ini juga punya 4 model: windbreaker, sweatshirt, bomber, dan blazer. Bukan blazer biasa, tapi wrinkle-free blazer
Photo courtesy of Baubax 
Model jaketnya keren ya? Saya ngincer yang bomber ituuuh! Nggak usah lama-lama, cek video-nya di sini

Gimanah? Bikin ngiler nggak sih! Ide pembuatan jaket ini diciptakan oleh Yoganshi Shah, lulusan Master of Engineering and Applied Science dari Columbia University yang sehari-hari bekerja sebagai developer dan designer. Sekarang, untuk pengelolaannya, Hiral Sanghavi, kandidat MBA dari Kellogg School of Management, bertindak sebagai CEO-nya. 

Sampai tulisan ini di-publish, sudah ada 20.521 orang yang sudah ikutan mendanai proyek ini, dengan total pengumpulan sebesar lebih dari USD 3.800.000 dari target awal yang "cuma" USD 20.000. Berminat pre-order? Silakan masuk ke link ini. Untuk pendanaan termurah yaitu USD 119, kamu bisa dapat model jaket sweatshirt, belum termasuk USD 20 biaya pengiriman ke Indonesia. Lalu kalau mau beli yang model windbreaker atau bomber USD 129, lalu blazer seharga USD 149. Harga ini sudah terbilang lebih murah karena kalau tidak pre-order dari Kickstarter, model sweatshirt saja bisa USD 160. Jauh lebih mahal. Ya iya, tapi nggak ada uangnya, hiks...

Verdict?
Kondisi finansial berbanding terbalik dengan kemupengan. Sekian.
Read More
Assalamualaikum! *blog post edisi syariah*

Sudah lebih dari 2 minggu saya nggak ngisi #OneYearAgo dikarenakan banyak distraction, yaitu pekerjaan, persiapan S2, persiapan resign, puasa, dan Mads Mikkelsen.  Oke, yang terakhir itu bener-bener menyita pikiran. Fannibals, anybody? Tapi janji, saya akan mengisi bolong-bolongnya seperti saya ngisi bolong utang puasa. Saya sudah siapin beberapa cerita di Slovenia dan Italia. 

Tahun ini saya bersyukur banget bisa berpuasa di Indonesia. Trip tahun lalu bener-bener membuka mata saya sekaligus membuat saya bersyukur menjadi umat Islam di Indonesia. Selain jam puasa yang lebih pendek, makanan iftar yang lebih enak-enak, suasana kekeluargaan, dan alunan adzan serta ayat-ayat Al-Qur'an yang bebas dikumandangkan. Bener-bener ngangenin.

Tahun ini saya ikut merasakan hebohnya malam takbiran di Indonesia dengan segala petasan dan kembang api. Tahun lalu, saya sedang di Paris, ikutan penutupan Tour de France di Champs Elysees, dan diakhiri dengan digigit anjing host saya sebelum tidur. Sepi sekali. 
Berkat tongsis, saya bisa foto dengan angle begini tanpa naik-naik tangga, haha! This is Tour de France crowd, setia menunggu pesepeda yang sudah ribuan kilometer keliling Prancis. Champs Elysees adalah finish line-nya!
Hari lebaran pertama, saya dan Rifka (sahabat saya yang bergabung di 3 hari terakhir perjalanan) berlebaran bersama di MH21 dengan pesawat Airbus A380-800, 13 jam perjalanan pulang yang luar biasa menyenangkan. Senang karena saya pulang, sekaligus mendapatkan cabin crew yang ramah dan memanggil kami secara personal dengan nama, walaupun kami penumpang ekonomi. Dia bertanya apakah kami merayakan hari raya ketika melihat paspor hijau kami. Lalu saya nyengir kepadanya, "Ya, kami pulang untuk hari raya."

Selamat Hari Raya teman-teman pembaca, taqaballalahu minna wa minkum. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga blog ini dapat terus bermanfaat untuk perjalanan backpacking, khususnya ke Eropa.

-@travelitarius *makan rendang*
Read More
Tulisan kali ini saya nggak ngomong tentang indahnya kota di Eropa (tulisan tentang Budapest on the way!). Tapi lebih ke berbagi gimana rasanya jalan sendirian dan kenapa jalan sendiri itu perlu buat kita. Sebelum berangkat pergi ke Eropa selama 2 bulan, saya udah merencanakannya jauh bertahun-tahun sebelumnya. Saya cuma tahu saya harus ke sana, apa pun yang terjadi, sebelum umur 26 tahun. Ketika momennya sudah ada, saya lalu bingung, "Sendirian, nih?" 

Waktu itu pertanyaan ini belum bisa dijawab. 60% saya yakin saya akan jalan sendiri saja. Kenapa saya nggak cari temen? Karena sebagai super-introvert, saya lebih suka jalan bareng sahabat atau teman yang sudah kenal dekat. Masalahnya, nggak semua teman punya bujet dan waktu yang sama. Dan nggak semua orang mau resign dari pekerjaannya yang sekarang. Akhirnya, sudah pasti saya jalan sendiri. "Kalau nunggu temen terus, kapan jalannya?" Oke, fix!

Pose favorit traveling sendirian
Sebelum pergi banyak banget pertanyaan "Gimana kalo...?" di kepala. Gimana kalo nanti ketinggalan pesawat? Gimana kalo nanti saya gak dicuekin orang Prancis karena pake Bahasa Inggris? Gimana kalo nanti saya dicopet? Paspor hilang? Uang habis di tengah jalan? Diopname? Kecelakaan? Nyasar? Aaaaarghhh... Banyak banget maju mundur di kepala, kayak pas visa udah di tangan atau tiket udah dibeli, saya sempet juga loh mikir, "Serem ih! Apa nggak usah aja ya?" Kalau pikiran udah mulai ngeres gitu, saya biasanya inget quote ini: "Whenever you want to give up, remember why you're started."

Hari itu akhirnya datang juga. Dua jam sebelum take-off ke Kuala Lumpur, saya memeluk keluarga saya untuk berpetualang sendiri. Dengan backpack 11 kilo di bahu, saya terus jalan sampai akhirnya sampai di kolong Menara Eiffel. Hari-hari berikutnya saya ketemu teman-teman baru, nyoba makanan asing, nganga ngeliat landmark, nyasar, nonton pengamen, ketiduran di bus, lari-lari ngejar tram, makan gelato sampe eneg, baca buku di taman, disangka orang Filipina, salah naik kereta, puasa 18 jam, dimarahin supir bus di Ceko, digigit anjing, ketinggalan kereta, sampai mewek pisah sama temen. Sepulangnya, saya sadar kalau orang khususnya cewek backpacking sendirian banyak manfaat buat diri sendiri.



Approachable
Dalam arti positif, kita lebih mudah didekati dan mendekati orang. Dalam perjalanan di kereta dari Amsterdam, seorang perempuan imigran Suriname mencolek saya dengan ramah, "Where are you from?" Dari situlah kami mulai ngobrol, dia kagum sama saya *uhuk* karena berani pergi jauh sendirian. Waktu saya salah naik kereta dan mau pinjam ponsel orang buat nelepon host, seorang cewek Belanda dengan senang hati meminjamkan ponselnya dan mengantarkan saya ke peron yang benar. Waktu di Paris, ada Couchsurfer dari Mesir yang nraktir saya makan siang di restoran karena dia suka Indonesia dan senang punya teman orang Indonesia. Waktu di Brno pun karena uang saya kurang buat beli tiket di dalam bus dan saya dimarah-marahi sama supir, ada ibu-ibu yang memberi saya tiket. Mungkin karena kesannya rapuh, cewek yang pergi sendirian gampang diminta bantuan dan dibantu orang lain. In a positive way, of course...

Independent dan Decisive
Pergi sendirian itu ribet, semua harus diurus sedetail-detailnya sendiri. Mulai dari nyusun dokumen untuk aplikasi visa, riset harga tiket, beli tiket, booking tiket, cari penginapan sendiri, jalan sendirian, navigasi sendiri. Nggak ada yang bantuin dan harus memutuskan semuanya sendiri. Kedengarannya gampang, tapi kalau sudah sendirian di kota yang bahasanya asing, makanannya nggak enak, transportasinya susah dipelajari, atau yang lain, pasti ada rasa cemas walaupun sedikit. Kalau sudah bertemu masalah, kita harus cepat mengambil keputusan dan traveling adalah salah satu latihan terbaik. Disitulah momen independency kita diuji.

Philosophical
Entah ini bisa ke semua orang atau enggak, tapi saat sendirian, saya ngerasa lebih kontemplatif. Ada aja yang dipikirin, mulai dari mau ngapain di masa depan, tentang karir, tentang cinta *uhuk*, tentang pindah, tentang tua, macem-macem. Kurang ngerti juga sih waktu itu kenapa diserang momen ini, mungkin karena kebanyakan sendiri dan nggak ada teman ngobrol, saya jadi ngobrol dengan diri sendiri. Dan momen ini pun akhirnya jadi ingatan atau reminder saat sudah pulang. Kita jadi dapet jawaban-jawaban hidup yang mungkin gak kepikiran di rumah.

Rose line di The Davinci Code di dalem Museum Louvre
Navigate Better
Sebagian besar cewek punya kemampuan spasial yang kurang, termasuk saya. Susah baca peta, muter-muterin peta buat sesuaiin arah, sampe kebalik antara kiri dan kanan. Di sana kita dituntut mandiri untuk pelajari peta rute bus, metro atau tram dan harus tahu turun di mana. Sepengalaman saya, rute paling rumit adalah transportasi kota Berlin dan Paris, cukup waktu lama orientasinya. Walaupun traveling sendiri nggak bisa ngubah drastis, tapi paling nggak saya bisa baca peta dan akhirnya nggak nyasar lagi. Saya lebih sering nyasar di Jakarta daripada di sana.

Broad-minded
Traveler yang baik kalau pergi ke suatu tempat, dia harus bisa menempatkan diri di lokasi itu. Dia harus bisa menerima kebiasaan dan kebudayaan yang ada di sana. Berbicara tentang agama atau minuman alkohol adalah topik nyerempet favorit saya. Sebagai pendengar yang baik, komplen orang-orang Eropa sana tentang Tuhan dan agama membentuk respek baru dari saya. Bukan saya langsung telen mentah-mentah apa yang mereka pikirin, tapi saya menghargai apapun keputusan dan pendapat mereka. Toleransi jadi tinggi, dan berteman tetap jalan. Kayaknya memang orang ektrimis bersorban yang biasa kita lihat di TV kurang piknik!

Kalau nyentuh giginya, katanya bisa kembali lagi Wroclaw. Mau banget!
Itu sih yang paling penting... Selain itu, traveling juga melatih pembentukan karakter yang decisive, determined, fearless, intuitive, reliable, self-disciplined, dan versatile. Banyak yah? Tuh, kan, traveling tuh bener-bener university of life deh...

-@travelitarius traveling is a education that we couldn't find it in school
Read More
Previous PostOlder Posts Home